Berita Terkini

Larang CPNS Daftar Dua Tempat
MESUJI - Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) merupa
Pemkab Lampura Bantu Biaya OTD 508 CJH
LAMPURA - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lampung Utara, Lampu
69 Kakam Tuba Ikuti Bimtek di Cipanas
TULANGBAWANG - Sebanyak 69 Kepala Kampung (Kakam) di 8 Kecam
Mantan Kadis Koperasi Dituntut 1,5 Bui
LAMTIM – Mantan Kepala Dinas (Kadis) Koperasi dan UMKM Lam
Kejari Tetapkan Ketua Poktan jadi Tersangka
LAMSEL - Setelah diperiksa kurang lebih lima jam, akhirnya K
Wagub Penen Udang Vaname
LAMSEL - Bupati Lampung Selatan H. Rycko Menoza, SZP, MBA be
Nesy Mustafa Lantik 11 Ketua PKK Kecamatan
LAMTENG - Ketua Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kabupaten Lampung
23 Randis Belum Dikembalikan
LAMBAR - Sebanyak 23 kendaraan dinas (randis) dari 29 unit y

Pengunjung

Kami memiliki 100 Tamu online


Jejak Sejarah Lampung Banyak di Luar Negeri

| E-mail Send | Cetak Print | PDF PDF

BANDARLAMPUNG - Sebagian naskah kuno dari Provinsi Lampung diketahui justru tersimpan dilembaga-lembaga asing di luar negeri.

Penambahan koleksi benda-benda bersejarah di museum negeri Lampung terkendala terbatasnya dana.

Hal itu diungkapkan Pulung Swandaru, Kepala Museum Negeri Lampung Ruwai Jurai.

Ia prihatin dengan kenyataan, ternyata banyak naskah kuno Lampung serta benda bersejarah lainnya yang dikoleksi bangsa asing. "Terus terang, kita (Lampung) sangat miskin akan data-data mengenai sejarahnya. Sementara, sebagian naskah-naskah kuno kita justru ada di luar negeri, misalnya di Leiden (Belanda). Kalau seperti ini, ke depan, anak cucu kita tidak akan kebagian apa pun tentang kearifan lokal," ungkap Pulung khawatir.

Berdasarkan data Pemprov Lampung, naskah-nashah kuno ini tersebar di Belanda, Denmark, Inggris, dan Jerman.

Di Amsterdam, belanda, misalnya, tercatat disimpan 40 buah naskah kuno dari bahan kulit kayu, rotan, dan kertas.

Di Leiden, setidaknya ada 5 buah naskah kuno yang disimpan bersama-sama koleksi dari Sumatera Selatan.

Lalu, di Inggris, disimpan sepuluh buah naskah kuno Lampung yang dikumpulkan penelitinya, MA. Jaspan."Betapa, kita tidak berdaya untuk menambah koleksi, melindungi barang-barang bersejarah, dengan anggaran yang ada," ungkap Pulung. Anggaran pengadaan koleksi baru benda bersejarah di museum ini hanya Rp 40-70 juta per tahun.

Ia mencontohkan, pernah suatu ketika pihaknya berniat membeli uang akuan eks karesidenan Lampung tahun 1958.

Namun, si pemiliknya meminta uang ganti dengan harga yang sangat mencengangkan, yaitu Rp 200 juta."Padahal, dia itu PNS. Beginilah, orang asing dapat beli door to door ini (barang-barang bersejarah) kepada pemiliknya, karena punya dana yang banyak. Kadang, pemilik bersedia tukar dengan barang elektronik," tutur Bambang Sigit, Kepala Seksi Pelayanan Museum Ruwai Jurai Lampung.(sms)



Baca Juga
Berita Lainnya