Berita Terkini

Dewan Tuba Persoalkan Fasilitas
TULANGBAWANG - Sejumlah anggota DPRD Tulangbawang mempertaya
Dishub Tuba Gelar Razia Izin Trayek
TULANGBAWANG - Guna memaksimalkan target Penghasilan Asli Da
PTUN Kembalikan Tanah Milik Suratno
MESUJI - Setelah melalui tahapan yang cukup melelahkan, akhi
Kirim Berkas, Pendaftar CPNSD Rela Berjalan Kaki
MESUJI - Status sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) nampaknya
Diskan Lampura Bangkitkan Pokmaswas Sungai
LAMPURA - Maraknya aksi pelanggaran untuk mendapatkan ikan d
Warga Diminta tak Bakar Ladang
WAYKANAN - Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut)
Angka Kematian Bayi di Mesuji Masih Tinggi
MESUJI - Masalah kematian ibu dan bayi masih meliputi Kabupa
Massa Tuntut Pejabat Lamtim Mundur
LAMTIM - Ratusan pengunjuk rasa dari Forum Masyarakat Lampun

Pengunjung

Kami memiliki 58 Tamu online


Jejak Sejarah Lampung Banyak di Luar Negeri

| E-mail Send | Cetak Print | PDF PDF

BANDARLAMPUNG - Sebagian naskah kuno dari Provinsi Lampung diketahui justru tersimpan dilembaga-lembaga asing di luar negeri.

Penambahan koleksi benda-benda bersejarah di museum negeri Lampung terkendala terbatasnya dana.

Hal itu diungkapkan Pulung Swandaru, Kepala Museum Negeri Lampung Ruwai Jurai.

Ia prihatin dengan kenyataan, ternyata banyak naskah kuno Lampung serta benda bersejarah lainnya yang dikoleksi bangsa asing. "Terus terang, kita (Lampung) sangat miskin akan data-data mengenai sejarahnya. Sementara, sebagian naskah-naskah kuno kita justru ada di luar negeri, misalnya di Leiden (Belanda). Kalau seperti ini, ke depan, anak cucu kita tidak akan kebagian apa pun tentang kearifan lokal," ungkap Pulung khawatir.

Berdasarkan data Pemprov Lampung, naskah-nashah kuno ini tersebar di Belanda, Denmark, Inggris, dan Jerman.

Di Amsterdam, belanda, misalnya, tercatat disimpan 40 buah naskah kuno dari bahan kulit kayu, rotan, dan kertas.

Di Leiden, setidaknya ada 5 buah naskah kuno yang disimpan bersama-sama koleksi dari Sumatera Selatan.

Lalu, di Inggris, disimpan sepuluh buah naskah kuno Lampung yang dikumpulkan penelitinya, MA. Jaspan."Betapa, kita tidak berdaya untuk menambah koleksi, melindungi barang-barang bersejarah, dengan anggaran yang ada," ungkap Pulung. Anggaran pengadaan koleksi baru benda bersejarah di museum ini hanya Rp 40-70 juta per tahun.

Ia mencontohkan, pernah suatu ketika pihaknya berniat membeli uang akuan eks karesidenan Lampung tahun 1958.

Namun, si pemiliknya meminta uang ganti dengan harga yang sangat mencengangkan, yaitu Rp 200 juta."Padahal, dia itu PNS. Beginilah, orang asing dapat beli door to door ini (barang-barang bersejarah) kepada pemiliknya, karena punya dana yang banyak. Kadang, pemilik bersedia tukar dengan barang elektronik," tutur Bambang Sigit, Kepala Seksi Pelayanan Museum Ruwai Jurai Lampung.(sms)



Baca Juga
Berita Lainnya