Berita Terkini

Perbaikan Infrastruktur di Seputihraman Habiskan Rp 4 M
LAMTENG - Pemerintah Kabupaten Lampung Tengah menganggarkan
Dewan Soroti Aset Daerah Dipakai Pihak Lain
METRO Komisi I DPRD Kota Metro menyoroti sejumlah bangunan a
Dewan Metro Segera Rampungkan Pekerjaan Rumah
METRO - Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Metro aka
Incar Narkoba Dapat Kulit Ular
LAMSEL - Jajaran Polres Lampung Selatan menggagalkan upaya p
Penetapan Pjs Kades Bakal Kisruh
PESAWARAN - Penetapan penjabat sementara (Pjs) Kepala Desa (
Pengusaha di Pringsewu Enggan Bayar Pajak
PRINGSEWU - Sejumlah pengusaha di Kabupaten Pringsewu masih
Pj Bupati Bertekad Terus Majukan Pesbar
PESISIR BARAT – Pejabat Bupati Pesisir Barat Kherlani bert
Distribusi Buku Kurikulum 2013 di Tanggamus Belum Selesai
TANGGAMUS – Distribusi buku kurikulum tahun 2013 untuk sek

Pengunjung

Kami memiliki 40 Tamu online


Jejak Sejarah Lampung Banyak di Luar Negeri

| E-mail Send | Cetak Print | PDF PDF

BANDARLAMPUNG - Sebagian naskah kuno dari Provinsi Lampung diketahui justru tersimpan dilembaga-lembaga asing di luar negeri.

Penambahan koleksi benda-benda bersejarah di museum negeri Lampung terkendala terbatasnya dana.

Hal itu diungkapkan Pulung Swandaru, Kepala Museum Negeri Lampung Ruwai Jurai.

Ia prihatin dengan kenyataan, ternyata banyak naskah kuno Lampung serta benda bersejarah lainnya yang dikoleksi bangsa asing. "Terus terang, kita (Lampung) sangat miskin akan data-data mengenai sejarahnya. Sementara, sebagian naskah-naskah kuno kita justru ada di luar negeri, misalnya di Leiden (Belanda). Kalau seperti ini, ke depan, anak cucu kita tidak akan kebagian apa pun tentang kearifan lokal," ungkap Pulung khawatir.

Berdasarkan data Pemprov Lampung, naskah-nashah kuno ini tersebar di Belanda, Denmark, Inggris, dan Jerman.

Di Amsterdam, belanda, misalnya, tercatat disimpan 40 buah naskah kuno dari bahan kulit kayu, rotan, dan kertas.

Di Leiden, setidaknya ada 5 buah naskah kuno yang disimpan bersama-sama koleksi dari Sumatera Selatan.

Lalu, di Inggris, disimpan sepuluh buah naskah kuno Lampung yang dikumpulkan penelitinya, MA. Jaspan."Betapa, kita tidak berdaya untuk menambah koleksi, melindungi barang-barang bersejarah, dengan anggaran yang ada," ungkap Pulung. Anggaran pengadaan koleksi baru benda bersejarah di museum ini hanya Rp 40-70 juta per tahun.

Ia mencontohkan, pernah suatu ketika pihaknya berniat membeli uang akuan eks karesidenan Lampung tahun 1958.

Namun, si pemiliknya meminta uang ganti dengan harga yang sangat mencengangkan, yaitu Rp 200 juta."Padahal, dia itu PNS. Beginilah, orang asing dapat beli door to door ini (barang-barang bersejarah) kepada pemiliknya, karena punya dana yang banyak. Kadang, pemilik bersedia tukar dengan barang elektronik," tutur Bambang Sigit, Kepala Seksi Pelayanan Museum Ruwai Jurai Lampung.(sms)



Baca Juga
Berita Lainnya