Berita Terkini

Wakil Bupati Tinjau Korban Puting Beliung
LAMTENG - Wakil Bupati Lampung Tengah Ir. Hi. Mustafa tinjau
Tak Ada Manfaat, Stop Kambing Etawa
TUBA BARAT - DPRD Kabupaten Tulangbawang Barat, mengancam ak
Satu Raperda di Lampura Belum Disahkan
LAMPURA - Raperda tentang perubahan Perda Nomor 21 Tahun 201
Tiga Desa di Mesuji Bangun Balai Desa
MESUJI - Tiga desa pemekaran di Kecamatan Wayserdang Mesuji,
Pemkab Lampura Beri 5000 JKN ke Warga
LAMPURA - Pemerintah kabupaten (Pemkab) Lampung Utara member
Pegawai Dinas Perikanan Lampura Datangi Kejari
LAMPURA - Sejumlah pegawai di Dinas Perikanan Kabupaten Lamp
Polisi Bekuk Perampas Uang Milik PT CANR
LAMPURA - Jajaran Polsek Bukit Kemuning Lampung Utara (Lampu
Warga Minta Pemkab Lampura Buat Sumur Bor
LAMPURA - Musim kering yang terjadi di Lampung Utara (Lampur

Pengunjung

Kami memiliki 43 Tamu online


Jejak Sejarah Lampung Banyak di Luar Negeri

| E-mail Send | Cetak Print | PDF PDF

BANDARLAMPUNG - Sebagian naskah kuno dari Provinsi Lampung diketahui justru tersimpan dilembaga-lembaga asing di luar negeri.

Penambahan koleksi benda-benda bersejarah di museum negeri Lampung terkendala terbatasnya dana.

Hal itu diungkapkan Pulung Swandaru, Kepala Museum Negeri Lampung Ruwai Jurai.

Ia prihatin dengan kenyataan, ternyata banyak naskah kuno Lampung serta benda bersejarah lainnya yang dikoleksi bangsa asing. "Terus terang, kita (Lampung) sangat miskin akan data-data mengenai sejarahnya. Sementara, sebagian naskah-naskah kuno kita justru ada di luar negeri, misalnya di Leiden (Belanda). Kalau seperti ini, ke depan, anak cucu kita tidak akan kebagian apa pun tentang kearifan lokal," ungkap Pulung khawatir.

Berdasarkan data Pemprov Lampung, naskah-nashah kuno ini tersebar di Belanda, Denmark, Inggris, dan Jerman.

Di Amsterdam, belanda, misalnya, tercatat disimpan 40 buah naskah kuno dari bahan kulit kayu, rotan, dan kertas.

Di Leiden, setidaknya ada 5 buah naskah kuno yang disimpan bersama-sama koleksi dari Sumatera Selatan.

Lalu, di Inggris, disimpan sepuluh buah naskah kuno Lampung yang dikumpulkan penelitinya, MA. Jaspan."Betapa, kita tidak berdaya untuk menambah koleksi, melindungi barang-barang bersejarah, dengan anggaran yang ada," ungkap Pulung. Anggaran pengadaan koleksi baru benda bersejarah di museum ini hanya Rp 40-70 juta per tahun.

Ia mencontohkan, pernah suatu ketika pihaknya berniat membeli uang akuan eks karesidenan Lampung tahun 1958.

Namun, si pemiliknya meminta uang ganti dengan harga yang sangat mencengangkan, yaitu Rp 200 juta."Padahal, dia itu PNS. Beginilah, orang asing dapat beli door to door ini (barang-barang bersejarah) kepada pemiliknya, karena punya dana yang banyak. Kadang, pemilik bersedia tukar dengan barang elektronik," tutur Bambang Sigit, Kepala Seksi Pelayanan Museum Ruwai Jurai Lampung.(sms)



Baca Juga
Berita Lainnya