Minggu, 11 Juni 2017

Kapolda Minta Hindari Istilah Begal

BANDARLAMPUNG - Kapolda Irjend (Pol) Drs Sudjarno SH mengaku risih dengan istilah "begal" karena memberi stigma negatif untuk Lampung. "Istilah KUHP-nya kan curas. Baiknya kita pakai istilah itu saja. Istilah begal bikin buruk citra Lampung secara keseluruhan. Padahal kan begal bukan cuma di Lampung atau pelakunya semua orang Lampung," ungkap Kapolda saat menerima audiensi pengurus PWI di ruang kerjanya, belum lama ini.

Kapolda yang dikenal sangat keras memberantas peredaran dan penyalahgunaan narkoba itu menceritakan pengalamannya saat menjadi Wakapolda Metro Jaya. "Pokoknya kalau sudah ada kasus begal, Lampung selalu disebut. Saya harap masyarakat dan media juga ikut berpartisipasi menghapus stigma buruk buat Lampung itu," harapnya.

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Plt Ketua PWI Nizwar beserta jajaran pengurus PWI tersebut, Kapolda juga menguraikan program yang sedang dilakukan Polda Lampung di masa Ramadhan dan jelang hari raya ini.

Polda Lampung secara aktif mengikuti kegiatan safari ramadhan, bazaar murah dan tentu saja tugas-tugas pengamanan terkait mudik mendatang. 

"Pengamanan mudik dilakukan secara estafet dan menyeluruh melibatkan personel-personel di mapolsek-mapolsek yang dilalui jalur mudik," urai Sudjarno.

Kapolda mengakui kondisi jalan negara yang akan dijadikan jalur mudik sudah mengalami perbaikan yang cukup signifikan. "Tetapi lampu jalannya masih belum merata. Jalan walau bagus tetapi kalau gelap tentu saja potensi kerawanannya tinggi," demikian Kapolda menjelaskan.

Dia mencontohkan biasanya akan terjadi penumpukan di Bakauheni karena pemudik kerap mengantisipasi ketidaktersediaan armada mudik di Terminal Rajabasa. "Kalau pemudik misalnya masuk Bakauheni pukul 01.00 WIB maka akan memilih menunggu di pelabuhan karena kalau langsung berangkat akan tiba di Rajabasa di waktu-waktu yang dirasa rawan. Bahkan bus-bus juga memilih parkir di Bakauheni. Ini perlu jadi perhatian tersendiri," kata Kapolda.

Irjend Soedjarno juga memberi perhatian khusus soal ketahanan pangan terkait ramadhan dan idul fitri. "Pemerintah misalnya sudah mengeluarkan edaran untuk melarang masuknya daging asal India. Tetapi kenyataannya di pasar kita lihat daging beku asal India beredar. Sulitnya, daging itu memiliki sertifikasi halal dan harganya bisa lebih murah dari daging lokal. Ini jadi masalah tersendiri juga karena menimbulkan masalah bagi pemasok daging lokal," urai dia.

Padahal, imbuh kapolda. Bank Indonesia memiliki data kalau Lampung adalah produsen komoditi yang cukup signifikan. "Ironisnya inflasi kita malah di atas rata-rata inflasi nasional," kata Soedjarno.

Terkait kegiatan bazaar murah yang digelar Polda Lampung di beberapa tempat, Soedjarno juga menerangkan kalau upaya operasi pasar untuk membantu kebutuhan masyarakat atas sembako di masa ramadhan itu dilakukan dengan regulasi yang ketat. "Operasi pasar itu juga memiliki patokan harga yang tidak bisa ditetapkan semurah-murahnya. Kemudian harus dilakukan dengan semangat memberi pendidikan kepada masyarakat. Bazaar dan operasi pasar bukan bagi-bagi sembako," tekannya. (rls).


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar