Minggu, 28 Mei 2017

Santri dan Mahasiswa NU Lampung Garda Terdepan Penjaga Keutuhan NKRI

TEGINENENG--Santri dan mahasiswa Nahdlatul Ulama (NU) di Provinsi Lampung, konsisten berada di garis terdepan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai bagian dari pencetus berdirinya NKRI, NU dengan seluruh elemennya menolak berbagai bentuk separatisme, apalagi pendirian negara berdasarkan khilafah.

"NKRI ini ikut didirikan para ulama NU. Sebagai pewaris NU, tentu kami wajib menjaga keutuhan NKRI," kata KH Saifudin Fathoni, pengasuh Pondok Pesantren Minhadul Ulum, saat menerima kunjungan Gubernur Lampung Muhammad Ridho Ficardo, di Jalan Cendana Sari Wonorejo, Desa Trimulyo, Kecamatan Tegineneng, Pesawaran, Selasa (23/5/2017). 

Gubernur Ridho berkunjung dalam rangka penutupan Suluk Matan 1 Mahasiswa Ahlith Thoriqoh Al Mu'thabarah An Nahdliyin (MATAN) se-Provinsi Lampung. Di hadapan Gubernur Ridho dan Bupati Pesawaran Dendi Romadhona, KH Saifudin Fathoni meminta pemerintah tidak ragu terhadap konsistensi NU menjaga NKRI. Bahkan bila ada yang mencoba mengganti ideologi negara, NU meminta pemerintah jangan ragu meminta bantuan.

Sebelum menutup Suluk Matan 1 yang diikuti 12 kabupaten dan kota itu, Gubernur Ridho kembali membuka lembar sejarah pembentukan NKRI dan Tentara Nasional Indonesia (TNI). "Para ulama NU dan santri keluar dari pondok pesantren untuk bergabung dalam berbagai laskar perjuangan. Ada yang masuk Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR). TKR dan BKR itulah cikal bakal TNI yang kita kenal sekarang. Jadi, NKRI itu berdiri di atas darah para ulama dan santri," kata Gubernur.

Jika ada sebagian elemen masyarakat ingin mendirikan negara berdasarkan khilafah, sambil bercanda Gubernur Ridho mengatakan mungkin sedang khilaf. "Semoga karena cuma khilaf ingin mendirikan khilafah," kata Ridho.

Kegiatan perdana di Lampung ini, menurut Ketua Panitia Suluk Matan 1, Ja'far Shodiq, diikuti 130 peserta dan berlangsung 21-23 Mei 2017. Peserta mendapat materi tentang Pancasila, wawasan Nusantara, ahlusunnah wal jamaah (aswaja) dalam bernegara, geopolitik, dan thariqoh. Pembicara berasal dari PBNU, Polda Lampung, Korem 043/Garuda Hitam, dan Pengurus Pusat Jamiyah Ahlith Thoriqoh Al Mu'thabarah An Nahdliyin (JATMAN). 

"Dari 130 peserta ini, mayoritas mahasiswa. Target kami memang ingin mengikis dan menangkal radikalisme di kampus. Suluk Matan 1 ini akan berlanjut di kabupaten dan kota se-Lampung. Bagi yang lulus Suluk Matan 1, nantinya akan mengikuti Suluk Matan 2 di tingkat nasional," kata Ja'far Shodiq. (rls).



Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar