Selasa, 30 Mei 2017

Komnas PA Janji Kawal Proses Hukum Kematian Lima Remaja Jabung

BANDARLAMPUNG - Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) melakukan pengawasan terhadap proses hukum kematian lima pelajar SMA asal Jabung, yang disangka begal.  Komnas PA berjanji mengawal proses hukum tersebut,  terutama terkqit dalam penegakan perlindungan anak, perlindungan hak asasi anak. 

“Tentu itu bagian dari kita, dan kita akan menggawalnya. Sekarangkan prosesnya masih berjalan ya, jadi kita akan terus kawal,” kata Ketua Komnas PA,  Arist M. Sirait, usai memberikan penghargaan Duta anak Peduli Sosial di Lamban Kuning, belum lama ini.

Menurut Arist M Sirait,  Komnas PA memonitor kasus itu,  ada dugaan Pelanggaran HAM yang di lakukan oleh Tim Ranger Tekab 308 Polresta Bandarlampung  dengan menembak mati terduga begal di Jembatan Layang Srengsem, Panjang, Bandar Lampung Sabtu (1/4/2017) pukul 02.15 lalu, mengakibatkan kelima pelajar terduga pelaku begal tewas. 

"Kita juga meminta orang tua ikut mengawasi prilaku anak,  jangan sampai tengah tengah malam masi berada diluar rumah, " katanya. 

Identitas kelimanya yakni Safar (20), Junaidi Ibrahim alias Yogi (20), Indra Saputra (17), Riko (17) dan Herman Efendi (17), tiga dari lima terduga begal masih pelajar asal Jabung Lampung Timur.

Menurut Polisi,  sempat baku tembak dan mengamankan sepucuk senjata api rakitan jenis revolver dengan 4 butir peluru di dalamnya dan 3 bilah celurit, dua buah gagang kunci letter T, 6 anak kunci T dan dua unit sepeda motor.

"Kelima pelaku adalah residivis dan target operasi, yang mana sudah didatakan oleh Tim Tekab 308 Polresta Bandar Lampung, karena merupakan pelaku curamnor (pencurian motor, red). Sudah ada DPO-nya di Polres dan jajaran," kata Kabid Humas Polda Lampung Kombes Sulistyaningsih.

Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung telah menginvestigasi kasus itu. Mereka menyimpulkan ada indikasi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) terkategori berat yang dilakukan polisi. Soalnya para korban belum terbukti bertindak kriminal tetapi sudah ditembak mati. Beberapa di antara korban bahkan masih di bawah umur.

"Hal ini pelanggaran HAM, dan tidak bisa dibiarkan," kata Direktur LBH Bandar Lampung, Alian Setiadi, saat menerima keluarga para korban Selasa malam (18/4). (Rls).
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar