Minggu, 14 Mei 2017

Ki Enthus Sebut Arinal itu Arjuna, Cagub Ahli Pertanian


Pertunjukan wayang dengan dalang Ki Enthus Susmono ini sengaja kita hadirkan di tengah masyarakat Lampung Timur. Sebab, di dalamnya bukan hanya tontonan, melainkan juga tuntunan.”

Demikian kalimat yang diucapkan Bakal Calon Gubernur (Balongub) Lampung, Arinal Djunaidi ketika memberikan sambutan pada pagelaran wayang kulit di Lapangan Pekalongan, Lampung Timur, Jumat (12/5) malam.
Ketua Golkar Lampung itu secara fasih memberikan sambutan menggunakan bahasa jawa. Meski terlihat kaku, Arinal cukup mampu membawa suasana menjadi cair. Warga yang membeludak dari seantero Lampung, terutama dari Lampung Timur, Metro dan Lampung Tengah terutama daerah sekitar perbatasan Lamtim dan Metro, terlihat antusias.
Tenda dengan jumlah kursi tiga ribu unit yang disiapkan, penuh. Belum lagi warga yang duduk lesehan beralas tikar atau duduk dengan sandalnya, serta yang berdiri padat di sekitar panggung. Mayoritas warga desa tersebut, tampak mengulum senyum. Sesekali nyletuk, wagu, ketika mendengarkan sambutan mantan Sekdaprov Lampung itu.  “Jadi mohon maaf ya bapak ibu kalau bahasa jawa saya agak susah, tapi bojoku asli Yogyokarto,” ucap Arinal.
Sebagai ahli pertanian, menurut Arinal Djunaidi (Ajina), Lampung mestinya sudah maju dan semua petaninya sejahtera. “Saya sekolahnya pertanian, jadi insinyur pertanian, kalau saya jadi gubernur, mudah-mudahan gampang menyelesaikan semua masalah pertanian. Karena nyambung. Kan akeh seng ora nyambung soal pertanian geh, Pak, Bu?”
Komunikasi dan dialog Arinal itu bahkan dilengkapi dengan duet bersama kader PDI Perjuangan yang jadi anggota DPRD Provinsi Lampung, Tulus Purnomo. Keduanya membawakan lagu “Lingsir Wengi”.
Ketua DPRD Lampung Tengah, Junaidi yang mendampingi Arinal serta merangkap jadi pembawa acara itu juga terlihat atraktif memandu yel-yel “Lampung Jaya” dan “Arinal Gubernur Lampung” seraya meminta semua penonton mengepalkan tangannya ke udara.
Lakon Kresna Duta
Seluruh rangkaian wayang dan doorprise yang disiapkan panitia Jaringan Arinal Berkarya (JAYA) itu, diungkapkan Ketua DPD II Golkar Lampung Tengah, Junadi sudah secara matang dan sistematis untuk memajukan dunia pertanian. Termasuk lakon wayang yang dimainkan Ki Enthus adalah Kresna Duta.
“Arinal itu Arjuna,” kata Ki Enthus yang sebelumnya sudah naik panggung lebih dulu bersama rombongan sinden dan yogo.
Pakem dalam lakon Kresna Duta sendiri, dalam dunia perwayangan dikenal sebagai fase awal lahirnya perang Barathayuda Jayabinangun.  Perang besar antara Pandawa dan Kurawa untuk memperebutkan kekuasaan di Hastinapura. Dimulai dalam lakon ini, sejak kalah dalam pertaruhan dadu, Pendhawa harus meninggalkan Inderaprastha. Akan tetapi, ketika Pandawa selesai dan berhasil melewati masa sulit tersebut, Raja Duryudhana ingkar. Jangankan mengembalikan kerajaan, merespon kaum Pandawa pun tidak.
Namun demikian, pakem yang ada dalam lakon pewayangan itu secara kreatif dimainkan Ki Enthus dengan bahasa dan dialog yang mudah dipahami. Selain sering mencampur dengan bahasa Indonesia, Ki Enthus yang memang dikenal dalang edan itupun secara piawai memainkan daya kejut penonton.
Bab pertemuan antara Burisrawa dan Stiyaki, bahkan menjadi tontonan yang menghibur, jenaka dan cenderung memainkan dialog secara terbolak-balik, antara bahasa ngoko dengan kromo inggil. Terlihat, di jajaran kursi VIP,  yang berjajar rombongan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Lampung tertawa terpingkal-pingkal ketika bahasa yang digunakan Burisrawa terbalik, memakai bahasa ngoko. Termasuk proses ketika Stiyaki yang tertidur dan dibangunkan. Tendangan pada Burisrawa bahkan, membuat wayang itu menancap tinggi di pohon yang jadi hiasan untuk menegaskan pertemuan keduanya di alun-alun Istana Hastinapura.
“Waduh, duwur, susah ini ngambil wayangnya. Yo ngadek wae,” kata Ki Enthus yang seketika berdiri mengambil wayang Burisrawa yang tertancap di pepohonan buatan.
Sontak, semua penonton tertawa terpingkal-pingkal. Terlebih, ketika berdiri itu, Dalang Ki Enthus menari-nari.
Ketua Jaringan Arinal Berkarya (JAYA), Ali Imron menyatakan, dipilihnya lakon Krisna Duta ini sebenarnya menjelaskan babak awal, jika utusan-utusan Pandawa diterima oleh Kurawa, maka perang Barathayuda Jayabinangun itu bisa dicegah. Termasuk di dalamnya, hadiah 10 ekor kambing dan 5 handtraktor itu semua sebagai penegas, bahwa Arinal Djunaidi adalah pemimpin yang tulus dan siap melayani para petani.
“Ini di luar rencana, awalnya hanya disiapkan lima ekor kambing dan satu handtraktor, namun kemudian ditambah, jadi ada 10 ekor kambing dan 5 handtraktor,” kata dia di sela-sela pertunjukan wayang.
Hadiah kambing, diundi tepat pukul 01.00 WIB dan langsung diambil serta diumumkan Calon Gubernur Lampung Arinal Djunaidi. Diantara sepuluh pemenang itu, hanya ada satu penonton perempuan yang beruntung. Waginem (53) warga Pekalongan itu terlihat histeris dan berlari-lari ketika namanya dipanggil dan berhak mendapakan satu ekor kambing. Sementara Mardi (58) merupakan warga Wayhalim, Bandarlampung, namun demi menonton Ki Enthus dirinya ikut dan menang.
Sementara hadiah utama, diundi ketika pukul 02.43 WIB. “Saya sampai selesai, jadi siapa pun yang menang dan dapat handtraktor ini tolong ya Pak, Bu, agar dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jika ada kelompok tani atau tetangganya yang butuh, mohon dipermudah demi kemajuan pertanian Lampung,” ujar dia sebelum mengambil kupon.
Senyum cerah Pak Wagiman, penonton yang mendapatkan hadiah kambing dari Calon Gubernur Lampung Arinal Djunaidi.
Peristiwa mengharukan terjadi ketika nama Amrah, warga Metro dipanggil. Sempat tertunda agak lama dibanding nama-nama pemenang sebelumnya, bahkan nyaris dihitung yang berarti dibatalkan dan diundi lagi. Naik anak muda, usia 19 tahun. Setelah dipastikan KTP dan dianggap sah, Arinal Djunaidi menanyakan. “Kamu petani? Oh masih muda, Bapakmu petani?” tanya Arinal.
“Oh, maaf, bapaknya sudah meninggal. Saya minta maaf ya, punya sawah tidak?”
Dijawab tidak yang secara mendadak, Arinal tak mampu menutupi kesedihannya dan merasa bersalah dengan pertanyaan yang diajukan. “Yowes ra opo-opo, semoga bermanfaat yo, hadiahnya,” ujarnya.
Diundi Akhir Acara
Menariknya, setelah lima pemenang handtraktor diumumkan, mendadak penontot berhamburan. Bubar. Beberapa diantaranya menunjukkan kekecewaannya dengan menyobek kupon dan menaburkannya ke udara. Selain undian hadiah yang membubarkan penonton sebelum waktunya, sejumlah panitia mengakui bakal mengevaluasi dalam pagelaran selanjutnya.
“Ya mestinya diundi akhir acara saja, termasuk panitia yang membagi kaos tepat di depan panggung, membuat warga berebut dan membuat kerumunan yang tidak semestinya,” ujar Pairan, panitia yang diwawancarai setelah berhasil membubarkan kerumunan warga yang berebut kaos itu.
Suasana kerumunan warga di depan kursi VIP dimana jajaran tamu undangan dan Calon Gubernur Lampung Arinal Djunaidi yang sedang duduk karena pembagian kaos.
Sementara di sisi lain, ketika masuk lakon goro-goro. Ki Enthus bahkan memainkan wayang golek yang memakai seragam hijau. “Ijo itu seragamnya NU. Aku asline yo weruh Bupati Lampung Timur Mbak Nuni ini mau nanggap Enthus, duite wes ono neng waktune yang belum tepat, nah untung ada Pak Arinal,” katanya.
Ki Enthus kemudian memainkan wayang golek secara apik dipadukan dengan lagu kreasi. Antara pop, dangdut dan jaipong.

Sementara itu, Ketua Pepadi Lampung yang juga mantan Rektor Unila, Sugeng P Hariyanto yang hadir di pagelaran wayang itu sebelumnya menyampaikan. “Pak Enthus ini dalang yang nyambi jadi bupati. Profesi utamanya dalang, tapi sekarang sudah jadi bupati,” kata dia. (rils)
Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar