Selasa, 09 Mei 2017

Kejati Lirik Praktek Pungli di IAIN Lampung

Bandarlampung-  Kejaksaan Tinggi Lampung(Kejati) Lampung mengaku belum melakukan pemeriksaan pada Rektor Universitas Islam Negeri(UIN) sebelumnya IAIN Raden Intan Lampung Moh. Mukri.

Korp Adiyaksa mengaku siap menindaklanjuti laporan dugaan Pungli berkedok pembanganun masjid yang menyeret nama Moh. Mukri,

"Ya sejauh ini belum kita panggil untuk melakukan pemeriksaan karena belum ada bukti yang konkrit sebagai pengantarnya," ujar Kajati Lampung Syafrudin, Selasa(09/05/2017).

Ia menuturkan, jika benar adanya dugaan Pungli yang dilakukan Rektor Moh. Mukri pada mahasiswanya artinya melanggar aturan yang ada.

"Artinya(Moh. Mukri) sudah melanggar pasal 12e tindak pidana korupsi," ucapnya. 

Diketahui, pada Selasa(01/11/2016) pagi, puluhan mahasiswa kampus 'Hijau' melaporkan Rektorat IAIN Raden Intan Lampung ke Kejati.

Mereka dengan tegas meminta pihak Kejati Lampung mengambil sikap akan keresahan yang mereka rasakan.

"Kami minta Kejati ambil sikap soal dugaan Pungli dan Pungli dihapuskan," kata Sharon perwakilan mahasiswa IAIN Raden Intan pasca melaporkan Rektorat di Kejati.

Ia mengatakan, jika uang yang diminta pihak rektorat berupa Infak itu baiknya jangan dipatok. Pun pihaknya meminta
rektor transparan soal dana Infak dan kegunaannya.

"Kejati ingin nindaklanjuti bersama kami. Dan kami didampingi LBH,".

"Sampai saat ini kami minta rektorat untuk transparan akan dana dan kami semua ingin melihat dana itu tapi enggak pernah ditempel(selalu tertutup)," ujarnya. 

a menegaskan, pihaknya meminta pihak Kejati mengambil sikap tegas untuk memberangus dugaan Pungli di IAIN Raden Intan Lampung. Alasannya kata dia, memberantas Pungli baiknya dari dalam kampus tempat belajar.

"Kami siap jadi mitra berantas Pungli," ungkapnya.

Disinggung siapa oknum yang paling disasar(otak) dugaan Pungli dan disoal dalam aksi yang berbuntut dilaporkan ke Kejati?

"Yang terindisikasi berkenaan dengan  SK. Yang pasti SK itu ditandatangi rektor(Mukri)," tegasnya.

Ia menceritakan, dugaan Pungli yang ada di kampus mereka disinyalir sudah mengakar dari tahun ke tahun. Sharon mengatakan, bila tahun lalu(2015) mahasiswa baru dipatok Rp 500 untuk Infak pembangunan Masjid. Namun tahun ini(2016) ada banyak pilihan A. Rp 500 B. Rp 750 C. Rp 1 juta dan lebih dari itu.

"Rp 500 nominal paling rendah. Harusnya enggk ada pilihan Infak," ujarnya.

Ia menambahkan, pihak rektorat tidak pernah menerima aspirasi dari mahasiswa setempat.

Selain dugaan Pungli pembangunan Masjid kata Sharon, saat tes urine beberapa waktu lalu, telah ada indikasi Pungli, alasannya kata dia, mahasiswa UKT(Kuliah mahasiswa selama satu masa studi dibagi rata per semester) itu sudah tidak diperbolehkan ada biaya. (rilis).


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar