Minggu, 14 Mei 2017

Dinas PPP Tanggamus Klaim Pembuatan Sanitary Renvile Berjalan Lancar

Tanggamus- Dinas Perumahan dan Prasarana Pemukiman (PPP) Tanggamus mengaku sekarang ini sudah berjalan pembuatan sanitary renville di tempat pembuangan akhir (TPA) Kalimiring, Kecamatan Kota Agung Barat.

Menurut A Rahman, Kabid Kebersihan dan Pertamanan, mewakili Kadis PPP Mukifli Novem, pekerjaan sudah mulai sejak tiga pekan lalu. Jenis pekerjaannya membuat lubang, buat jalan, pembuatan instalasi pengolahan air. 

"Pembangunan ini dilakukan pemerintah pusat yang dananya dari APBN, sebab kami sudah mengusulkan dan itu langsung direalisasikan," katanya, Jumat (12/5).

Selanjutnya ia mengatakan bahwa anggaran untuk pembangunan tersebut sekitar Rp 13 miliar. Jumlah itu memang besar yang semestinya bisa dipakai untuk pembuatan dua unit kolam sanitary renville. 

"Hal yang membuat besarnya anggaran karena kondisi lapangan, di sana lahannya miring, jadi dengan dana sejumlah itu kalau permukaannya rata bisa dibuat lebih dari satu unit," terang Rahman. 

Teknis pembangunannya adalah lokasi yang dibuatkan kolam dulu di titik terendah. Kolam yang dibuat luasnya sekitar satu hektar dan karena posisi lahan miling maka kedalaman kolam sekarang ini sekitar 50 meter. Untuk mengerjakan itu ada empat eksavator yang dioperasionalkan, ditambah dua unit tendem roller. 

"Saat ini sisi kolam sebelah utara yang masih dikerjakan, sedangkan sisi lainnya sudah selesai berikut dasar kolam. Kemudian di sisi utara sudah mulai dibuatkan instalasi pengolahan air dengan luas sekitar 500 meter persegi. Maka nantinya sisi kolam bagian utara menyambung dengan instalasi air," ujarnya. 

Dalam hal ini, lanjut Rahman,  air tersebut adalah air ujan yang jatuh ke kolam tempat sampah. Karena saat meresap air tersebut melewati tumpukan sampah maka harus ada instalani pengelolaan air yang menetralisir air sebab nantinya air akan dilepas ke sungai. 

"Setelah pembuatan kolam sampah sampah selesai tahap selanjutnya pembuatan saluran air yang akan memgalirkan air dari tumpukan sampah ke instalasi pemgolahan air. Kemudian pembuatan pipa-pipa untuk saluran biogas dari tumpukan sampah," terang Rahman. 

Pola di TPA sanitary renville adalah mengolah sampah menjadi pupuk organik. Nantinya sampah yang masuk ke TPA adalah sampah yang tidak bernilai ekonomis, umumnya jenis organik, seperti sisa makanan, tanaman, sayuran, bangkai herwan dan lainnya. Sampah dimasukan ke lubang diratakan, dan ditimpah tanah sampai seluruh permukaan sampah tertutup. Lalu diatasnya diberi sampah lagi dan ditutup tanah, begitu terus, sehingga berlapis-lapis.

"Dalam jangka waktu beberapa tahun kemudian tanah di kolam itu digali lagi dan itu sudah menjadi pupuk organik. Sedangkan sampah anorganik seperti jenis plastik, logam, kaca, dan lainnya tidak dimasukan ke lubang melainkan didaur ulang yang dikelola di tempat pembuangan sementara (TPS) 3R atau bank sampah yang mulai ada di beberapa kecamatan. Dari pola seperti ini sampah benar-benar termanfaatkan, tidak seperti selama ini sampah hanya dibiarkan menumpuk di TPA," jelasnya pula. 

Lebih lanjut Rahman mengaku pemerintah daerah memang tidak akan sanggup membangun TPA sanitary renville, sehingga minta bantuan ke pusat. Namun setelah pusat membangun daerah harus berkontribusi yakni wajib mengadakan alat berat minimal satu eksavator dan dana sharing sekitar Rp 750 juta untuk pengelolaan sampah nantinya. 

"Selama ini setiap hari sampah yang masuk ke TPA Kalimiring sekitar 10-12 ton dari pengangkutan lima sampai enam truk. Melalui sistem sanitary renville sampah yang masuk itulah diolah, sebab sekarang ini TPA tidak boleh lagi mencemari lingkungan mulai dari air resapan, bau, serta jadi sarang binatang penyebar penyakit," tukasnya. (Ham). 


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar