Minggu, 21 Mei 2017

Arinal Hadirkan Ki Enthus Hibur dan Terus Edukasi Masyarakat


///Dari  Wayangan Melayani dengan Setulus Hati, Lakon “Bima Bungkus”///
Ketua DPD Golkar Lampung Arinal Djunaidi akhir pekan kemarin kembali mengadirkan  wayang kulit semalam suntuk bersama dalang Ki Entus di Lapangan Etanol, tulangbawang dan Tanjungbintang, Lampung Selatan.  Pementasan wayang kulit selain menghibur sekaligus menambah pengetahuan masyarakat. Untuk di Etanol, dalang yang penuh improvisasi ini mengetengahkan cerita “Bima Bungkus”.
Ribuan penonton memadati lapangan yang dimeriahkan 70 lebih kru yang dibawa dalang ” ngepop”, penampilannya kerap keluar pakem pewayangan konservatif, tersebut. Hadiah bagi penonton telah disiapkan Arinal berupa lima traktor tangan (hand tractor), 10 ekor kambing serta puluhan hadiah hiburan lainnya.
Saat pembukaan, Arinal Djunaidi, bakal calon gubernur Lampung itu, menyerahkan wayang Bima kepada Ki Enthus sebagai simbol untuk mengisahkan kelahiran Bima, salah satu anggota Keluarga Pandawa. Banyak pelajaran yang dapat dipetik masyarakat dari lakon ini. Ada pro dan kontra, keserakahan dan kebajikan, yang alhirnya dimenangkan oleh kebajikan.
Arinal Djunaidi berharap lima tahun mendatang kehidupan masyarakat lebih baik. Ketua Golkar Lampung itu mengajak masyarakat bersama-sama membangun Lampung yang lebih maju dan sejahtera. “Lima tahun kedepan, masyarakat Lampung harus lebih maju dan sejahtera, ” kata Ketua DPD Partai Golkar Lampung itu.
Niat yang baik harus dilakukan dengan cara yang tepat dan baik pula, ujarnya. Dia berharap masyarakat dapat terhibur sekaligus dapat memetik pengetahuan dari “Bima Bungkus”. Lakon pewayangan yang menceritkan kisah kelahiran Bima oleh Dewi Kunti. Saat dilahirkan, Bima berada dalam bungkus. Tidak ada satu peralatan yang mampu membuka bungkusannya.
Bima yang masih terbungkus akhirnya dibuang ke Krendawahana. Destarata yang mendengar peristiwa tersebut memerintahkan para Kurawa untuk membunuh Bima. Namun, para Kurawa gagal membuka bungkus yang menyelimuti Bima.
Batara Guru memprediksi Bima akan muncul sebagai kesatria pembela keadilan dan kebenaran. Dia kemudian menyuruh putranya Gajahsena memecah bungkus itu. Setelah bungkus pecah, karena terkejut keduanya lalu berkelahi. Singkat cerita, Gajahsena terbunuh oleh Bima.
“Wayang itu bukan sekadar hiburan, tapi ada nilai filosofi yang bisa menjadi tuntunan hidup bagi masyarakat. Karena itu, kami yakin pertunjukan yang menampilkan dalang terkenal Ki Enthus dapat menambah pengetahuan ribuan warga yang antusias datang menonton pertujukan,” kata Ali Imron, ketua Jaringan Arinal Berkarya (Jaya). (rls)


Reaksi:

0 komentar:

Posting Komentar